Seminar Nasional merentas Bullying: mengembangkan layanan kemanusiaan berbasiskan kearifan lokal komuntas

Seminar Nasional merentas Bullying: mengembangkan layanan kemanusiaan berbasiskan kearifan lokal komuntas

More »

Mahasiswa Jurusan PMI

Mahasiswa Jurusan PMI

More »

Baksos di SLB Wantu Wirawan Salatiga

Baksos di SLB Wantu Wirawan Salatiga

More »

HMJ PMI

HMJ PMI

More »

 

Category Archives: Berita Jurusan

Asesmen Lapangan Visitasi Akreditasi Tahun 2017

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam atau yang di singkat dengan PMI Fakultas Dakwah tanggal 21-23 Juli 2017 melaksanakan Asesmen Lapangan Visitasi Akreditasi Tahun 2017 oleh Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). adapun yang menjadi Asesor dalam asesmen ini adalah Dr. Ahmad Ilya Ismail, M.A ( UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Dr. Hamidah, M.Ag ( UIN Raden Fatah Palembang).

http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_093519.jpg
IMG_20170722_093519
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_092621.jpg
IMG_20170722_092621
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_091110.jpg
IMG_20170722_091110
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090708.jpg
IMG_20170722_090708
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090643.jpg
IMG_20170722_090643
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090638.jpg
IMG_20170722_090638
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090627.jpg
IMG_20170722_090627
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090618.jpg
IMG_20170722_090618
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090612.jpg
IMG_20170722_090612
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090605.jpg
IMG_20170722_090605
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090555.jpg
IMG_20170722_090555
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090538.jpg
IMG_20170722_090538
http://pmifakultasdakwah.esy.es/wp-content/uploads/2017/07/IMG_20170722_090536.jpg
IMG_20170722_090536

Acara asesmen ini dihadiri oleh Wakil Rektor I, Dekan Fakultas Dakwah, Wakil Dekan I Fakultas Dakwah, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah, Wakil Dekan Febi, Dekan Jurusan Syariah, Dekan Jurusan Fuadah, perwakilan pimpinan FTIK, Ketua LPM, Ketua LP2M, Kepala UPT TIPD, Dosen Fakultas Dakwah, Mahasiswa Jurusan PMI, dan juga 2 Asesor dari BAN-PT. acara asesmen ini dibuka secara resmi oleh Wakil rektor I Dr. Agus Waluyo, M.Ag dan ditutup oleh Dekan Fakultas Dakwah Dr. Mukti Ali, M.Hum.

Kegiatan asesmen berjalan dengan lancar dan cepat. Karena kerjasama dari seluruh tim yang telah bekerja sekuat tenaga mempersiapkan dokumen-dokumen yang akan divalidasi oleh asesor.

Ibadah Puasa Ramadhan dan Keshalehan Sosial

Oleh : Agus Hermawan, MA

Pada hari ini kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan dan dikabulkannya segala doa. Bulan yang dikenal dengan sayyidul syuhur, syahrul  shiyam, Syahrul Qiyam, dan Syahrul Qur’an. Di bulan ini seluruh umat Islam di penjuru dunia diberikan kesempatan sama oleh Allah Swt untuk menjemput lailatul qadar. Maka marilah kita syukuri anugerah ini dengan selalu meningkatkan ketakwaan kita yakni dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt  karena Taqwa inilah sebaik-baik bekal kita diakhirat nanti (lihat al-Qur’an) dan karena Takwa inilah kedudukan terhormat seorang hamba disisi Allah Swt. (lihat QS.  Al-Hujarat:13).

Meskipun sementara orang mengatakan “what is name” apalah arti sebuah nama, tetapi nama Syawal bulan kesepuluh Hijriyyah ini dimana kita sebentar lagi akan mulai memasukinya ternyata  mengandung tuntutan agar manusia selalu meningkatkan amal ibadahnya. Karena Syawal itu artinya berkembang, tumbuh, bertambah meningkat dan Takwa  itu sendiri merupakan tujuan dari ibadah berpuasa. Sehingga diharapkan kepada jamaah semuanya setelah menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan ditambah dengan amal shaleh seperti Tadarus Al-Qur’an, Shalat Tarawih dan Shalat-shalat sunnah lainnya, beriktikaf di Masjid, memperbanyak sedekah, dzikir dan mengikuti majlis taklim di masjid, serta musholla pada akhirnya diharapkan benar-benar menjadi pribadi-pribadi yang kembali suci, bersih dan baik. Baik pikirannya, baik hatinya dan baik pula amal perbuatannya.

Kalau selama bulan suci Ramadhan kita sekalian melaksanakan segala tuntunan Allah sesuai dengan kesucian bulan itu sendiri, berarti kita telah membakar dosa, membakar noda, kita telah menggilas habis-habisan segala nafsu syaithaniyah. Sebagaimana makna Ramadlon adalah membakar, sehingga keluar lulus dari “kawah candradimuka” atau madrasah Ramadhan ini manusia kembali suci sebagaimana keadaan ia lahir dari ibunya.(Lihat al-hadits Bukhari –Muslim, dan Ibnu Khuzaimah).

Seruan perintah wajib puasa di bulan Ramadhan ditujukan kepada orang-orang yang beriman bukan pada level/ maqam orang Islam  (Lihat QS.Al-Baqarah:183) Sehingga tidak heran jika di pasar-pasar, warung-warung makan pinggir jalan kita bisa melihat ada orang yang beragama Islam tetapi tidak berpuasa. Ini dikarenakan mungkin tingkat keimanannya yang masih rendah, atau bisa juga sebab sakit, musafir dan tidak kuat berpuasa (QS.Al-Baqarah:184). Jadi dalam perspektif Hukum Islam mafhum mukhalafahnya seseorang yang tanpa udzur syar’i tidak berpuasa, diragukan keimanannya.

Dengan berpuasa maka iman seseorang akan meningkat dan lebih terbina. Hal ini dikarenakan dalam kondisi berpuasa seseorang dituntut untuk berbuat baik, jujur, karena aktifitasnya bernilai ibadah dan sebaliknya dilarang berbuat yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa seperti berbuat dholim / jelek. Disinilah peranan puasa yang selaras dan sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri sebagaimana disinggung dalam akhir ayat Al-Baqarah 183 yakni agar menjadi orang yang bertaqwa.

Sebagian ulama Salaf berpendapat bahwa tipologi keberagamaan manusia itu ada 4 sifat yakni Muslim, Mu’min, Muhsin, Mukhlis dan Muttaqiin. Perubahan tingkatan beragama dari seorang yang mu’min untuk menjadi seorang muttaqiin yang menjadi tujuan puasa maka harus melewati tingkatan (maqam) muhsin dan mukhlis. Dan untuk itu hanya akan bisa dilakukan manakala orang tersebut sudah mengetahui dan menyadari akan pertanyaan dan jawaban berikut ini; min aina?(dari mana asal kita hidup?), ila aina? (Kembali ke mana kita setelah mati?), limadza? (untuk apa kita hidup di didunia?)jawabannya adalah From God (Allah), For God (Allah) To God (Allah). Orang yang sudah menyadari akan tiga pertanyaan ini maka seseorang tadi akan selalu “eling lan waspodo”. Eling kepada Tuhannya (Allah) dan waspodo terhadap bujuk rayu syaitan serta dorongan hawa nafsu. Dengan berpuasa inilah self of control (sikap pengendalian diri manusia itu lebih terjaga) dikarenakan puasa merupakan benteng (lihat Hadits).

Banyak sekali peranan dan manfaat puasa baik sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah Swt, sebagai media untuk Taqarrub ilallah, media pembelajaran moral/ karakter, menyehatkan jiwa dan raga kita, serta melatih kepekaan dan empati sosial kita kepada saudara yang kurang beruntung secara ekonomi sehingga akan mendorong diri kita menjadi orang yang lebih bertaqwa.

Komunikasi Lintas Budaya

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, namun dengan demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat laten sebagaimana dijelaskan imam subqi dalam jurnal inject. Dalam berkomunikasi manusia sebenarnya telah melakukan aktivitas dasarnya, karena manusia tidak bisa lepas dari komunikasi, dengan berkomunikasi manusia dapat saling berinteraksi atau berhubungan satu sama lainnya baik dalam kehidupan sehari-hari, dirumah, pasar atau dimana tempat mereka berinteraksi. Disadari sepenuhnya bahwa komunikasi yang dilakukan manusia selalu mengandung potensi perbedaan budaya, sekecil apa pun perbedaan itu sangat membutuhkan upaya untuk keberhasilan proses komunikasi secara efektif yakni dengan menggunakan informasi budaya mengenai pelaku-pelaku komunikasi yang bersangkutan. Tak dapat di elak lagi komunikasi lintas budaya menjadi kebutuhan bagi semua kalangan untuk menjalin hubungan yang baik dan memuaskan bagi setiap orang, terutama mereka yang berbeda budaya.

Pada awalnya studi Lintas Budaya berasal dari perspektif antropologi sos-bud yang bersifat depth description yaitu penggambaran mendalam tentang perilaku komunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu. Sehingga diawalnya Komunikasi Lintas Budaya diartikan sebagai proses mempelajari komunikasi diantara individu maupun kelompok suku, bangsa dan ras yang berbeda negara. Alasannya karena beda negara pasti beda kebudayaannya. Sebaliknya adalah Komunikasi Antar Budaya yang dilakukan oleh pribadi-pribadi dalam suatu bangsa yang sama.

Melalui pemahaman lintas budaya, akan ditarik serat-serat perbedaan atau persamaan lintas budaya secara individu atau masyarakat, selanjutnya dapat pula di identifikasi unsur-unsur yang dapat melanggengkan komunikasi. Tentu saja untuk memahami budaya orang lain, setiap perilaku komunikasi harus terlebih dahulu memahami budayanya sendiri. Dengan kesadaran lintas budaya, selanjutnya akan muncul sikap saling menghargai bagi setiap kebutuhan, aspirasi, perasaaan dan masalah manusia. Komunikai lintas budaya atau sering juga disebut dengan istilah komunikasi antar budaya bersifat informal, personal dan tidak selalu terikat antar bangsa atau antar negara.

Workshop Pembuatan Media Trauma Healing Mahasiswa PMI

Minggu tanggal 19 Februari 2017, sedikitnya ada 30 mahasiswa yang mengikuti workshop pembuatan media trauma healing di kampus III IAIN Salatiga yang menghadirkan ahli dibidangnya yaitu Siti Fatimah pemilik Habib Education Toys Salatiga dan Ary Haryanto pemilik Stasiun Edukasi Salatiga yang telah eksis.

Menurut Dr Muna Erawati, M.Si sebagai Ketua Jurusan mengatakan bahwa workshop bagi mahasiswa akan mendapatkan nilai tambah di luar materi perkuliahan sebagai tambahan pengetahuan bagi mahasiswa, pelatihan merupakan seperangkat kemampuan yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. workshop memuat komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian individu. Tujuan dari workshop tersebut akan  memberikan kesempatan kepada individu untuk untuk mempelajari perilaku baru dan meningkatkan hubungan antar pribadi dengan orang lain. Pelatihan memiliki banyak manfaat, misalnya pengembangan karir serta etika profesional. Dari sisi organisasional, workshop memberikan dampak terhadap kualitas manajemen secara total, efektivitas institusional dan sinergi inovasi.