Ibadah Puasa Ramadhan dan Keshalehan Sosial

Oleh : Agus Hermawan, MA

Pada hari ini kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan dan dikabulkannya segala doa. Bulan yang dikenal dengan sayyidul syuhur, syahrul  shiyam, Syahrul Qiyam, dan Syahrul Qur’an. Di bulan ini seluruh umat Islam di penjuru dunia diberikan kesempatan sama oleh Allah Swt untuk menjemput lailatul qadar. Maka marilah kita syukuri anugerah ini dengan selalu meningkatkan ketakwaan kita yakni dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt  karena Taqwa inilah sebaik-baik bekal kita diakhirat nanti (lihat al-Qur’an) dan karena Takwa inilah kedudukan terhormat seorang hamba disisi Allah Swt. (lihat QS.  Al-Hujarat:13).

Meskipun sementara orang mengatakan “what is name” apalah arti sebuah nama, tetapi nama Syawal bulan kesepuluh Hijriyyah ini dimana kita sebentar lagi akan mulai memasukinya ternyata  mengandung tuntutan agar manusia selalu meningkatkan amal ibadahnya. Karena Syawal itu artinya berkembang, tumbuh, bertambah meningkat dan Takwa  itu sendiri merupakan tujuan dari ibadah berpuasa. Sehingga diharapkan kepada jamaah semuanya setelah menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan ditambah dengan amal shaleh seperti Tadarus Al-Qur’an, Shalat Tarawih dan Shalat-shalat sunnah lainnya, beriktikaf di Masjid, memperbanyak sedekah, dzikir dan mengikuti majlis taklim di masjid, serta musholla pada akhirnya diharapkan benar-benar menjadi pribadi-pribadi yang kembali suci, bersih dan baik. Baik pikirannya, baik hatinya dan baik pula amal perbuatannya.

Kalau selama bulan suci Ramadhan kita sekalian melaksanakan segala tuntunan Allah sesuai dengan kesucian bulan itu sendiri, berarti kita telah membakar dosa, membakar noda, kita telah menggilas habis-habisan segala nafsu syaithaniyah. Sebagaimana makna Ramadlon adalah membakar, sehingga keluar lulus dari “kawah candradimuka” atau madrasah Ramadhan ini manusia kembali suci sebagaimana keadaan ia lahir dari ibunya.(Lihat al-hadits Bukhari –Muslim, dan Ibnu Khuzaimah).

Seruan perintah wajib puasa di bulan Ramadhan ditujukan kepada orang-orang yang beriman bukan pada level/ maqam orang Islam  (Lihat QS.Al-Baqarah:183) Sehingga tidak heran jika di pasar-pasar, warung-warung makan pinggir jalan kita bisa melihat ada orang yang beragama Islam tetapi tidak berpuasa. Ini dikarenakan mungkin tingkat keimanannya yang masih rendah, atau bisa juga sebab sakit, musafir dan tidak kuat berpuasa (QS.Al-Baqarah:184). Jadi dalam perspektif Hukum Islam mafhum mukhalafahnya seseorang yang tanpa udzur syar’i tidak berpuasa, diragukan keimanannya.

Dengan berpuasa maka iman seseorang akan meningkat dan lebih terbina. Hal ini dikarenakan dalam kondisi berpuasa seseorang dituntut untuk berbuat baik, jujur, karena aktifitasnya bernilai ibadah dan sebaliknya dilarang berbuat yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa seperti berbuat dholim / jelek. Disinilah peranan puasa yang selaras dan sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri sebagaimana disinggung dalam akhir ayat Al-Baqarah 183 yakni agar menjadi orang yang bertaqwa.

Sebagian ulama Salaf berpendapat bahwa tipologi keberagamaan manusia itu ada 4 sifat yakni Muslim, Mu’min, Muhsin, Mukhlis dan Muttaqiin. Perubahan tingkatan beragama dari seorang yang mu’min untuk menjadi seorang muttaqiin yang menjadi tujuan puasa maka harus melewati tingkatan (maqam) muhsin dan mukhlis. Dan untuk itu hanya akan bisa dilakukan manakala orang tersebut sudah mengetahui dan menyadari akan pertanyaan dan jawaban berikut ini; min aina?(dari mana asal kita hidup?), ila aina? (Kembali ke mana kita setelah mati?), limadza? (untuk apa kita hidup di didunia?)jawabannya adalah From God (Allah), For God (Allah) To God (Allah). Orang yang sudah menyadari akan tiga pertanyaan ini maka seseorang tadi akan selalu “eling lan waspodo”. Eling kepada Tuhannya (Allah) dan waspodo terhadap bujuk rayu syaitan serta dorongan hawa nafsu. Dengan berpuasa inilah self of control (sikap pengendalian diri manusia itu lebih terjaga) dikarenakan puasa merupakan benteng (lihat Hadits).

Banyak sekali peranan dan manfaat puasa baik sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah Swt, sebagai media untuk Taqarrub ilallah, media pembelajaran moral/ karakter, menyehatkan jiwa dan raga kita, serta melatih kepekaan dan empati sosial kita kepada saudara yang kurang beruntung secara ekonomi sehingga akan mendorong diri kita menjadi orang yang lebih bertaqwa.